Bercermin

Tak perlu membuktikan apapun.

Pada siapapun.

Arang pun tak tahu bahwa sebelumnya dia adalah kayu.

Dan mentari kan tetap bersinar, biidznillah, ada atau tiada penikmat lahirnya hari yang baru.

Lalu untuk apa kau mengilhamkan seonggok daging berwarna hitam?

Dipublikasi di Jalan Kesana | Meninggalkan komentar

Hidup adalah…

Hidup adalah Mang Ade, laki-laki 54 tahun yang memainkan lakon ronggeng monyetnya di pelataran alun-alun kota Ciamis. Berbekal seekor monyet yang didandani layaknya manusia -baju dan celana melekat di badan dan kacamata hitam keren bertahta di atas hidung- dengan diiringi oleh nada tinggi tabuhan saron gamelan Sunda, Mang Ade lihai mengarahkan aktornya. Selepas mempertunjukkan kesenian yang juga dikenal dengan nama Ledhek Munyok itu, penonton akan melemparkan recehan uang ke arah macaca fascicularis yang pandai menirukan perilaku manusia itu. Alhamdulillaah, Mang Ade bisa mempertahankan dapur keluarganya untuk tetap ngebul.

Hidup adalah Teh eRos dan A Pepep, yang berangkat dari rumahnya ketika tetangga kiri-kanannya masih berselimut mimpi. Jam 03.00 dini hari, pasangan suami isteri ini harus membuka kios daging sapinya di pasar Ciamis. Mereka harus melayani para pedagang sayur keliling yang mengambil barang dagangan dari kiosnya untuk kemudian menjualnya langsung dari rumah ke rumah. Setelah melayani para pedagang sayur keliling, pasutri ini kembali disibukkan dengan ibu-ibu yang memilih untuk membeli daging langsung ke pasar. Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, pasutri ini akan menutup kiosnya setelah sebelumnya menghitung laba-rugi hari itu. Mereka bergegas pulang ke rumah sebelum hari terlalu larut untuk kemudian melepas lelah setelah seharian menjemput rizki Allah di pasar. Besok mereka harus bangun pagi.

Hidup adalah Bu Engkom. Seorang janda dengan tiga anak yang membuka jasa menjahit pakaian di rumahnya. Pagi-pagi, setelah merampungkan pekerjaan rumah tangganya, Ibu yang ditinggal mati suaminya 19 tahun yang lalu ini akan menyibukkan diri dengan lembaran kain milik langganannya yang menunggu untuk segera dijahit satu per satu. Dengan penglihatan rabun dekat sebagai akibat logis dari proses penuaan yang dialaminya, Ibu penyabar ini tak jarang harus bergantung pada alat bantu berupa kacamata dan lilin untuk sekedar memasukkan benang ke dalam lubang jarum di mesinnya. Maklum, mesin jahit yang dipakainya merupakan mesin jahit manual yang sudah berusia seperempat abad. Tak terhitung sudah berapa kali mesin jahitnya seuseut kehabisan oli sehingga rodanya sulit digerakkan. Tapi Ibu ini tetap bersemangat menginjak pedal mesin jahitnya dengan gigih. Namanya juga hidup, ya harus diperjuangkan. Begitu kira-kira prinsip yang dianutnya.

—————

Hidup adalah perjuangan, tempat manusia mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebelum tiba waktu kepulangan ke kampung akhirat. Hidup adalah perjuangan, karena Sang Pencipta meniupkan ruhNya pada jasad manusia bukan semata untuk berfoya di alam fana. Hidup adalah perjuangan, agar kita dapat mencapai kemuliaan, hidup secara layak, serta memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Hidup adalah perjuangan, dengan tidak mengesampingkan tujuan akhirat kita. Kemuliaan di dunia tidak akan menyelamatkan kita tatkala di akhirat kelak kita datang menemuai Allah seraya memikul dosa-dosa disebabkan melalaikan Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syura : 20)

Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.

Dipublikasi di Jalan Kesana | Meninggalkan komentar

OLAHRAGA KITA SUDAH ADEKUAT ATAU BELUM ?

(INTERMEZZO ini tidak berhubungan dengan judul tulisan di atas)

Pertama kali menginjakkan sepatu di kota asal seniman senior Kang Ibing (alm) ini -kurang lebih tahun 2005an-, hampir selalu saya pahili menyebutkan antara kata ‘Sabuga’ dengan ‘Gasibu’. Lidah saya sering –kalau kata orang Sunda mah- kacaletot alias terpeleset lidah.

Dilihat dari segi kewilayahan, kedua tempat ini terletak di dua lokasi yang cukup jauh jaraknya, yang kalau ditempuh dengan naik angkot Cicaheum-Ciroyom akan ditagih Rp 2.500 sama Mang sopir angkotnya. Sabuga ya di jalan Tamansari, sebrang ITB tea. Gasibu ya di dekat Gedung Sate, sekitaran Jalan Surapati itu. Hanya saja, dilihat dari segi bahasa, huruf-huruf yang menjadi unsur penyusun kedua katanya hampir sama. Hanya berbeda satu huruf saja, yaitu pada huruf ‘i’. Betul kan? Mangga, coba Anda telek-telek sendiri saja. Benar kan kata saya? Jadi –untuk beberapa saat- saya masih menganggap wajar sindrom pahili saya itu.

Seringkali nya sih begini, misalnya saya ditanya :

“Gedung Sate teh sebelah mana, Ci?”

Eta Gedung Sate mah sebrangnya Sabuga bukan”, padahal mah maksud saya itu ya Gasibu.

Atau begini,

Aa kapungkur ngekost caket Gasibu nya?” (kakak dulu ngekost dekat Gasibu ya?), tanya saya pada kakak laki-laki saya.

“Gasibu mah di beh mana dunia meureun. Aa mah ngekost di caket Sabuga, Kucrit” (Gasibu di sebelah mana dunia kali. Kakak ngekost dekat Sabuga), jawab kakak saya

Padahal mah, maksud saya itu ya Sabuga. Lagi-lagi, kacaletot.

———————

(Nah, kalau yang ini sudah berhubungan dengan judul tulisan :D)

Saya selalu suka lari pagi ke Sabuga menggunakan rute yang tak biasa. Berawal dari kostan saya di kawasan Sukajadi, biasanya pukul 05.30 WIB saya akan berlari santai di pinggir jalan Pasirkaliki sebelah RSHS, kemudian berbelok ke kiri untuk naik tanjakan ke arah jalan layang Pasteur-Surapati, atau yang lebih kita kenal sebagai Jembatan/Jalan Layang Pasupati.

Di sepanjang jalan layang pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi anti gempa ini, -kalau hari minggu- saya akan bertemu dengan pejalan kaki lainnya yang memanfaatkan jalan layang ini sebagai jalur pilihan menuju pasar kaget Gasibu. Ada ibu-ibu, bapak-babak, bapak dan ibu, aa-aa, teteh-teteh, semuanya ada disini.

Tentu saja sebenarnya jalan layang ini tidak diperuntukkan untuk para pejalan kaki. Tapi ya, kami biasanya cuek saja :D, tapi tentu dengan tetap menjaga keamanan dan keselamatan diri masing-masing. Kami sudah berlaku cukup hati-hati dengan berjalan di bahu kiri jalan. Kakak saya biasanya geleng-geleng kepala sambil tertawa saja kalau mendengar cerita nekat saya lari pagi di sepanjang jalan layang. Kakak saya tidak pernah melarang. Mungkin waktu dulu masih kuliah di Bandung, suka bertindak nekat juga kali ya. Hehe.

Nah, bagian ini yang paling saya suka. Sambil menyusuri jalan layang di pagi hari, kita akan diingatkan akan karunia Allah berupa sedapnya Kota Bandung di pagi hari. Kendaraan bermotor masih jarang melintas. Udara juga terasa sangat segar. Jadi hobi nafas deh kalau pagi-pagi (?).

Dari atas jalan layang, kita pun bisa melihat Kota Bandung dari ketinggian yang cukup untuk melihat atap-atap hunian penduduk Kota Bandung yang disinyalir semakin bertambah padat saja.

Jika kita melayangkan pandang ke arah utara, siap-siap lah dihadapkan pada Gunung Tangkuban Perahu yang menjulang dan tampak sangat bersahaja dikawani balutan awan putih. Subhanallah. View yang cocok untuk mentafakuri kebesaran ciptaanNya 🙂 -sayang saya tidak punya gambarnya, coba lihat dan rasakan sendiri saja ya-

Nah, tepat di jalan turunan kedua sebelah kiri, biasanya saya akan mengambil lajur turunan ini, kemudian belok ke kiri untuk menyusuri jalan Tamansari. Sampai kemudian tibalah kita di Sabuga. YEAY! 😀

Memang sih, dengan berjalan atau berlari santai dari kostan yang terletak di Sukajadi ke Sabuga saja sudah cukup untuk mengeluarkan keringat, memakan waktu kurang lebih 20 menit perjalanan –jika menyusuri jalan layang Pasupati-. Tapi teman-teman, dengan sampainya saya di lapangan tanah Sabuga, justru olahraga baru saja akan dimulai! Anggaplah perjalanan di jalan layang tadi sebagai suatu bentuk perjalanan spiritual kita atas penciptaan langit dan bumi. Makanya sambil lari, banyak-banyak baca kalimat dzikir, biar bisa jadi ibadah juga 😀

Nah, kalau sudah sampai di Sabuga, saya punya misi luar biasa : menaklukkan 8 putaran lapangan atletik Sabuga dalam waktu 30 menit. YEAH!! Saya ga tau siy, standarnya berapa menit untuk setiap putaran. Tapi saya menganggap itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Hehe. Belakangan saya sudah berhasil menempuh 8 lap itu dalam waktu 25 menit. Alhamdulillaah, peningkatan 😀

Setelah selesai berlari di lapangan atletiknya, jangan langsung duduk dulu! Otot-otot tubuh kita perlu beradaptasi dari metabolisme yang begitu tinggi saat lari tadi. Jadi, lakukan perubahan aktivitas secara perlahan : lari-lari kecil, kemudian jalan-jalan, hingga akhirnya kita bisa duduk menyelonjorkan kaki.

Sambil berlari-lari kecil, kita hitung nadi kita setelah lari di lapangan atletik tadi.

Nah, teman-teman, sebenarnya disinilah INTI dari tulisan saya ini, yaitu mengenai bagaimana caranya agar kita mengetahui bahwa OLAHRAGA KITA SUDAH ADEKUAT ATAU BELUM. Hehehe. *sapanjang-panjang nulis, intinya sih ini 😀

Intensitas olahraga kita dikatakan mencukupi jika denyut nadi setelah berolahraga (DNSB) dalam satu menit, mencapai 70-85% dari Denyut Nadi Maksimum (DNM) atau jika diterjemahkan ke dalam kalimat matematika, akan menjadi :

DNSB = kisaran dari 70%DNM sampai 85%DNM

yang mana DNM sendiri dihitung dengan cara :

DNM = 220 – umur

Ambil contoh, umur saya saat ini 23 tahun, berarti DNM saya adalah 220 – 23 = 197 kali/menit

Maka, DNSB saya adalah (kita ambil angka 70%) –> 70% x 197 = 137,9 ~ 138 kali/menit

OKE? Jadi saya jangan asal berolahraga, tetapi bagaimana caranya agar olahraga saya menghasilkan DNSB sebanyak 138/menit.

Silakan hitung sendiri, berapa denyut nadi tujuan Anda 😀

Gambar

begini caranya menghitung nadi, jangan lupa untuk menghitung dalam satu menit ya

 Oiya, sekalian ya, biar ga nanggung ilmunya. Oahraga yang ideal itu adalah olahraga yang memenuhi kriteria FITT :

Frekuensi : 3-5 kali/minggu

Intensitas : Kita sudah belajar ya di atas 🙂

Time : durasi 20 – 60 menit per kali olahraga

Type : aerobik

————-

Tulisan ini terinspirasi oleh kuliah Fisiologi Ilmu Kedokteran Keluarga (IKK) yang dibawakan oleh Dr.Reni Farenia, dr.AIFO pada hari pertama pembekalan koas IKK.

Rumus DNSB dan DNM pun bersumber dari bahan kuliah tersebut.

Dipublikasi di Indonesia Sehat | Meninggalkan komentar

“Hari ini saya tidak melihat Pak Slamet..”

Malam itu saya akan menginap di rumah Ua saya di kawasan Guntur Sari, Buah Batu, Bandung. Kedatangan saya di rumah Ua ternyata bersamaan dengan terdengarnya kumandang adzan isya dari masjid yang terletak tak jauh dari rumah Ua. Maka Ua pun langsung mengajak saya untuk mengikuti shalat isya berjamaah di masjid.

———————

 “Assalamu’alaikum warahmatullah..”

Ucapan salam sang imam tersebut mengakhiri shalat isya berjamaah kami di masjid Nurul Falah, Guntur Sari, Buah Batu.

Setelah menyelesaikan dzikirnya, Sang Imam pun duduk menghadap ke arah jamaahnya sembari bertanya, “Hari ini saya tidak melihat Bapak Slamet berdiri di barisan makmum. Tidak waktu shalat shubuh, maghrib maupun sekarang. Biasanya beliau berdiri di shaf terdepan. Mungkin diantara jamaah ada yang tahu, kemana Pak Slamet?”.

Seorang Bapak paruh baya berpeci putih yang duduk di shaf pertama pun menjawab, “Tadi pagi saya berpapasan dengan istrinya di jalan. Pak Slamet sakit sejak kemarin malam, reumatiknya sedang kumat.”

“Innalillaahi wa inna ilaihi raa’jiuun. Sakit adalah ujian dari Yang Maha Menyembuhkan. Mari kita berdoa bersama supaya Pak Slamet diberikan kesembuhan yang tidak meninggalkan kesakitan setelahnya. Insya Allah besok pagi kita sama-sama jenguk beliau ke rumahnya”, ucap Sang Imam.

———————-

Saya sangat terkesan dengan perhatian yang diberikan Sang Imam masjid Nurul Falaah tersebut kepada para jamaahnya. Sang Imam yang notabene berperan sebagai pemimpin bagi para makmum jamaah shalat.

Sejatinya, seorang pemimpin haruslah kokoh, melindungi dan melayani. Dia akan menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memonitor dirinya dan dia takut kepada Allah. Dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang maupun sikap abai terhadap urusan rakyat. Dia akan menyimpan hajat jamaahnya di atas kepentingan pribadinya. Dia akan memperhatikan urusan rakyatnya.

Khalifah Umar, ra, pemimpin negara yang luas wilayahnya meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam serta Mesir, pernah berkata : Andaikan ada seekor hewan di Irak kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus)

Dipublikasi di Jalan Kesana | Meninggalkan komentar

Berguru di Arcamanik #3

Setelah ‘bermain-main’ dengan pasien pertama dan kedua, saya pasrah saja menghadapi kenyataan terpahit apapun yang akan terjadi. Kemudian datanglah pasien ketiga, keempat dan seterusnya. Alhamdulillaah, so far so good 😀

Kemudian tibalah pasien kesekian. Seorang anak perempuan, kelas VII. Oke, sudah aman. Saya sudah memasukkan ponsel saya ke dalam tas.#tiba-tiba ingat pasien kedua saya 🙂

Sang anak –kita panggil saja namanya Hani- mengambil posisi duduk di depan meja pemeriksaan.

Sebelum Hani masuk, saya baru saja menerima kabar bahwa kelas VII akan segera memulai proses belajar-mengajar lagi. Sang guru meminta saya untuk memeriksa lebih cepat. Periksa tanda vitalnya saja dulu Dok, begitu pintanya pada saya.

Saya pun bergerak lebih cepat. Setelah menyapanya sambil tak lupa mengukir seulas senyum, saya meminta izin untuk memeriksa Hani. Saya langsung memasang spigmomanometer pada lengan kanannya. Mengukur tekanan darah, menghitung nadi, pernapasan dan mengukur suhu.

“Bu dokter, kenapa sih Hani harus diperiksa kesehatannya segala? Kalau misalnya Hani ketauan punya penyakit kanker, Hani bakal dikeluarin ya dari sekolah?”, tiba-tiba saja gadis ini melontarkan pertanyaan polos dan cerdas.

Seperti biasa, untuk sepersekian detik saya kaget dengan pertanyaannya. Dan seperti biasa pula, saya segera menyambar tiket kereta peluru super cepat Shinkanshen jurusan STAY COOL. Hehehe.

Hmm

“Hani kan anak pintar nih,, tau Menteri Kesehatan kita nggak?”, aku balik bertanya padanya.

Hani hanya menggelengkan kepala tanda ketidaktahuannya. Keseluruhan ekspresi wajahnya pun menunjukkan hal yang sama. Tidak tahu.

“Menteri Kesehatan kita adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Beliau dikatakan menderita penyakit kanker paru-paru sejak kurang lebih 1,5 tahun yang lalu. Hani bisa bayangkan, menteri kesehatan kita yang seorang dokter saja ternyata baru mengetahui bahwa dirinya sakit itu setelah diperiksa kesehatannya”, aku mencoba mengajaknya ber-rasionalisasi.

“Tapi penyakit kanker itu tidak menjadikannya malas bekerja. Beliau tetap bersemangat dan maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang menteri. Beliau tetap pergi ke daerah-daerah untuk melakukakan kunjungan. Beliau tetap memimpin rapat bersama para stafnya. Dan satu hal, beliau tidak pernah mengeluh kepada teman kerjanya mengenai penyakitnya”, saya mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk dipaparkan kepada gadis kelas VII SMP di hadapan saya.

“Hani pun harus mencontoh ibu Menteri kita”, saya melanjutkan kalimat, menggeser posisi duduk saya lebih mendekat pada Hani, sambil tak lupa menyentuh tangannya, “Hani harus mau dan harus rajin memeriksakan kesehatan Hani, karena kita tidak pernah tahu, kapan Allah menguji kita dengan kesakitan. Kalaupun misalnya Hani sampai dikatakan punya penyakit kanker, Hani harus tetap semangat belajar, insya Allah sekolah ga akan mengeluarkan Hani. Hani harus ingat pada ibu menteri kita yang tetap bekerja dengan baik walaupun beliau sedang sakit. Oke?”

Kalimat itu mengakhiri dialog kami. Hani sudah dipanggil oleh gurunya, kembali ke dalam kelas.

“Bu dokter, Hani masuk dulu ya. Nanti Hani kesini lagi deh”, pamitnya kepadaku.

Ditinggal oleh Hani, saya pun terpekur sendiri dalam pikiran saya.

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Semoga Ibu dr.Endang R Sedyaningsih diampuni dosanya dan dilapangkan kuburnya. Diberikan sebaik-baik tempat kembali. Aamiin.

Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha

Dipublikasi di eFKa | Meninggalkan komentar

Iman Adalah Mutiara (Raihan)

Iman adalah mutiara
Di dalam hati manusia
Yang meyakini Allah
Maha Esa, Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagaimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau berentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah
Jika tidak kembali pada Allah

Dipublikasi di Jalan Kesana | Meninggalkan komentar

17 Motivasi Berinteraksi dengan Al-Quran #mukaddimah

Saya sedang membereskan buku-buku yang berada di dalam kardus barang-barang pindahan saya dari Bandung. Alhamdulillaah saya menemukan buku yang saya cari. Buku ini hadiah dari seorang sahabat ketika saya berulang tahun di tahun 2007 (atau 2008 ?) silam. Buku ini berjudul 17 Motivasi Berinteraksi dengan Al-Qur’an yang ditulis oleh Ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, al-hafidz, Lc.

Image

Saya ingin berbagi hikmahnya dengan teman semua. Semoga dengan hadirnya tulisan ini dapat semakin meningkatkan ghirah untuk senantiasa meningkatkan interaksi dengan al-Quran. Allahumma Aamiin..

Ya Allah Yang Maha Pengasih

Engkau Yang Maha Memberi Petunjuk

Engkau yang menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki

 

Ya Allah Yang Maha Memberi Nikmat

Engkau Yang telah menurunkan nikmat al-Qur’an

Maka jadikanlah kami ahlul Qur’an..

Jadikanlah kami bagian dari keluargaMu di atas bumi ini..

 

Ya Allah Yang Maha Memberi Cahaya kepada Langit dan Bumi

Engkau lah Cahaya di Atas Cahaya

Bimbinglah kami menuju cahayaMu

Jadikanlah al-Quran cahaya penerang alam kubur kami

Aamiin Yaa Allaah..

Image

 

Dipublikasi di Jalan Kesana | Meninggalkan komentar

Jelajahi Dunia

Wahai anakku, dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkan keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan. (Ali bin Abi Thalib ra)

Diambil dari buku 99 Cahaya di Langit Eropa-nya Hanum Salsabila Rais

*terinspirasi dari status fb-nya Nana buat nulis kalimat ini di blog*

Dipublikasi di Jelajah Hidup | Meninggalkan komentar

Berguru di Arcamanik #2

Setelah dibuat K.O oleh lakon cerdas pasien pertama, saya punya persiapan yang lebih matang untuk menghadapi berbagai kemungkinan tabiat pasien kedua saya.

Yah, persiapan saya tidak seheboh itu sih. Saya tidak puasa mutih tujuh hari tujuh malam. Saya juga tidak mandi kembang tujuh rupa dan tujuh warna di tujuh tengah malam*masuk angin bo*. Wah, apalagi itu, tentu tidak. Saya tidak menyembelih kambing umur tujuh bulan yang berbulu tujuh warna untuk dilemparkan dagingnya ke laut di tujuh kota yang berada di tujuh benua.*perasaan benua cuma ada lima* -_-

Tidak. Saya tidak melakukan semua itu. Palaur ah, Dulur. Bisi musyrik 🙂

Persiapan saya cuma satu : tekad yang kuat#asek.

Saya bertekad untuk tidak akan terperangkap oleh jebakan betmen dengan segala variannya. Hehehe. Bismillah.

————-

Pasien kedua pun masuk. Seorang gadis kecil siswa kelas VII yang manis, muncul dalam balutan jilbab putih bersih, mengucap salam dan langsung duduk di kursi periksa.

Well, kesan pertama okelah..

Tapi ternyata teman-teman,, ketenangan tidak berlangsung lama. Saya laksana markas Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour yang digempur secara tiba-tib oleh serangan torpedo pasukan Jepang. Sekali lagi tiba-tiba saya dibuat kaget SEKAGET-KAGETNYA.

Tiba-tiba saja gadis ini menyambar ponsel saya yang tergeletak tak berdaya di atas meja periksa. Refleks kaget saya ternyata tak mampu mencegahnya.

Ponsel saya sudah berada di tangannya.

Apa maksudnya ini?

“Ih bu dokter hape nya sama kaya hape punya saya”, ujarnya riang menatap ponsel yang dipegangnya. Dia sepertinya sedikitpun tidak merasa bersalah  telah menyambar hape saya -_-.

Dia malah asyik menekan-nekan keypad ponsel saya. Saya tidak tau, apa yang dicarinya dari ponsel jadul buatan negeri tirai bambu itu? Ponsel itu tidak bisa dipakai untuk menyimpan foto, tidak untuk memutar lagu, apalagi untuk mengakses internet layaknya anak gaul zaman sekarang (tapi saya tetap gaul ko walaupun ponselnya jadul dan agak dudul. Hehe).

“Ih bu dokter ga tau ya cara buat ngatur supaya SMSnya ga bisa dibaca orang lain. Ketauan deh suka SMSan sama siapa aja niih”, lanjutnya nyerocos, “Nanda Fadhita, siapa nih bu? Dokter Anita,,,,”

Saat itu saya tahu bahwa gadis manis ini sedang membaca inbox SMS saya. Dia sedang menyebutkan nama-nama orang yang tertera di inbox ponsel saya.  Haduh, ada-ada saja. Beruntung isi inbox ponsel saya ga aneh-aneh 😀

Sebelum gadis itu semakin kehilangan kendali. Sebelum gadis itu secara sporadis membuka segala macam yang ada di ponsel saya, mengulitinya sampai ke sumsum baterai, saya harus mengambil keputusan demi integritas bangsa dan negara #?

“Wah, bisa ya, ada pengaturan kaya gitu? Gimana caranya Say? Kasih tau bu dokter dong..”, rayu saya dengan harapan gadis itu mau menyerahkan ponsel kembali dengan selamat ke pangkuan saya.

“Iih, ibuu. Ini nih buu. Di siniiii ngaturnyaa”, ujarnya greget sambil menyerahkan ponsel ke tangan saya.

Mungkin jiwa mudanya merasa miris menyaksikan kondisi ‘orang tua’ di hadapannya yang patut dikasihani karena ketertinggalan zamannya di era milenium ini. Mungkin gadis ini merasa bahwa dengan mencerdaskan dan menambah khazanah keilmuan saya akan dunia per-ponsel-an berarti pula telah turut serta dalam upaya pencerdasan bangsa sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945.#naon sih.

“Coba ibu buka menu setting, terus buka di security, terus blablabla…”, gadis itu berapi-api mendiktekan ajarannya pada saya.

Saya, berusaha mengikuti dengan antusias. Hehe.

Bagi saya saat itu, tidak terlalu urgent untuk membuat SMS-SMS saya menjadi tidak bisa dibaca oleh orang lain. Toh isinya juga paling banter tidak jauh seputar jarkom koas, jarkom tugas (sempit sekali pergaulan saya ya. Hehe. Ga gitu-gitu banget juga sih..) dan SMS-SMS tausyiah yang tak pernah saya hapus -lumayan sebagai pengingat, bisa disebarkan juga ke orang lain 🙂 -. Kalaupun isi inbox ponsel saya dijual seharga sepuluh ribu rupiah saja untuk disiarkan di infotainment kenamaan, tidak akan ada manajemen infotainment yang akan membeli. Hehe. Siape lu? Mungkin begitu semprot pihak manajemennya pada saya.

Kalau begini keadaannya mah, kenapa setting-an SMS saja sampai harus di-protect segala ya?

Well, tapi okelah, saya bisa merasakan semangat kepemudaannya untuk mengangkat harkat, derajat dan martabat saya di depan ponsel yang saya miliki. Saya mengapresiasi hal itu.

Terima kasih, gadis kecil 😀

another ‘anak spesial’ yang saya temui di sekolah ini-

Dipublikasi di eFKa | Meninggalkan komentar

Berguru di Arcamanik #1

“Ketika memeriksa nanti, jangan kaget ya Dok, mungkin ada beberapa siswa-siswa kami, anak-anak spesial yang akan Dokter hadapi”, ungkap seorang wanita berseragam sambil tersenyum penuh makna.

Saya dan kedua teman saya pun mengangguk. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang dimaksud dengan anak yang spesial? Apakah yang ditaburi keju dan kacang sebagai topping? #eta mah martabak spesial 🙂

Oke, mari kita lihat saja nanti, kejutan apa yang akan kami hadapi.

——

Hari itu saya dan kedua teman saya diminta untuk membantu salah seorang dokter senior (sebut saja dr.A, bukan nama sebenarnya, bukan juga nama seharusnya) melakukan pemeriksaan kesehatan siswa SMP Mutiara Bunda di kawasan Arcamanik, Kota Bandung.

Awalnya saya sempat ragu menerima tawaran tersebut, mengingat enam hari lagi kami akan menghadapi ujian super duper dahsyat, super duper powerful, sepowerful-nya tinju seorang Haruno Sakura dalam serial Naruto dan tendangan karate Ran Mouri dalam Detective Conan yang mampu meremukkan lawan dan mendobrak tembok sampai ambruk. BRUK. Ujian super duper yang ‘hanya’ berdurasi 3 jam 20 menit tetapi mampu menjadi penentu kelulusan belajar kami selama 5,5 tahun menempuh pendidikan dokter. Ujian yang diselenggarakan dalam rangka mengevaluasi kompetensi dokter Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi atas kompetensinya. Betul, ujian tersebut adalah UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia) kami tercinta yang akan diselenggarakan di pertengahan Mei ini 🙂

Tawaran ke SMP ini saya terjemahkan sebagai penyelamat saya dari penatnya mengakrabkan diri dengan lembaran-lembaran kertas dan bermesra dengan masteran-masteran modul untuk persiapan UKDI selama dua minggu terakhir ini. Ibaratnya kurva konsentrasi HbsAg yang mengalami titik puncak saat awal masa infeksi akut dan mencapai nadirnya kurang dari waktu 6 bulan, begitupun dengan saya. Saya telah mencapai titik nadir. Saya harus berhenti sejenak untuk kemudian bersiap melompat jauh lebih tinggi lagi. YEAH! Entah kenapa dengan memikirkannya saja saya sudah merasa sangat bergairah. Hehehe 😀

Baiklah, sebenarnya maksud inti dari paragraf panjang di atas adalah : Saya perlu refreshing 😀

Saya pun mengajak dua orang teman saya untuk menerima tawaran tersebut. Hingga tiba hari yang sudah ditentukan, kami pun berangkat ke sekolah yang berlokasi di Arcamanik.

Sesampainya di sekolah, kami disambut oleh senyum hangat dan kalimat lugas seorang wanita berseragam, kalimat yang menjadi pembuka tulisan ini, kalimat di atas (mangga dilihat dulu ke atas, persis kalimatnya apa ya).

Tanpa berlama-lama, kami pun bergegas menuju tempat pemeriksaan, sekaligus menemui dokter A yang sudah terlebih dahulu memulai pemeriksaan.

————

Pasien pertama saya : seorang anak laki-laki kelas VII.

Anak ini melangkah masuk ke ruang pemeriksaan. Saya pun mengeluarkan jurus mata elang : jurus mengamati sasaran secara komprehensif dalam tempo yang sesingkat-singkatnya 😀

Ini hasil pengamatan saya : dari penampilan, anak ini tidak jauh berbeda dengan profil anak SMP pada umumnya. Perawakannya sedang, pakaian rapi, rambut pun tidak gondrong. So far so good lah, mirip keponakan saya yang kelas 2 SMP jadinya. Hehe. Tapi, hey, tunggu dulu, apa itu yang menempel di mulutnya?#memicingkan mata

Untuk sepersekian detik, saya tercengang.

Bumi rasanya berhenti berputar pada lintasan elipsnya.

…..

Ya ampun,

ini ga mungkin.

Bagaimana bisa?

Oh..

Ternyata, ternyata seutas –atau selembar?- selotip menempel di sebaris mulutnya! Apa-apaan ini? Tentu saja ini akan membuat mulutnya sulit berkata-kata.

Tapi sejurus kemudian saya teringat pesan dari wanita berseragam yang kami temui di awal. Tiba-tiba bohlam 20 watt berpijar terang di benak saya. TRING. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan ‘anak yang spesial’ itu?

Alih-alih menunjukkan ekspresi keheranan, saya memilih untuk tetap duduk manis seakan tidak terjadi apapun. STAY COOL. Saya tidak memberi komentar apapun atas fenomena melekatnya selotip pada bibir anak ini. Saya sibuk dengan diagnosis saya sendiri. Asumsi saya yang paling logis saat itu adalah : Anak ini mengalami gangguan bicara (tidak bisa bicara).

Oke, tarik nafas perlahan,,, buang.

Tarik nafas lagi,,, buang lagi.

Rileks.

Saya harus memperlakukannya sesopan mungkin, sehalus mungkin. Jangan sampai saya menyinggung perasaannya walau secuil pun. Hati anak ini begitu suci dalam menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya, bahwa dia berbeda dengan teman-temannya. Bahwa dia tidak bisa berbicara.

Saya mengucap kalimat basmalah dalam hati.

“Sini Say, duduk di sini. ”, sapa saya membuka komunikasi sambil mempersilakannya duduk di kursi periksa

”Diperiksa dulu yaa sama bu dokter”, lanjut saya sambil tak lupa menyunggingkan seulas senyum 🙂

Intermezzo sedikit. Sengaja saya memanggil saya sendiri dengan panggilan ‘ibu’. Berdasarkan pengalaman ketika dulu saya stase koas di puskesmas dan ikut kegiatan skrining kesehatan anak SD kelas 6 di wilayah Cicaheum, kebanyakan anak-anak SD tersebut memanggil kami para koas dengan panggilan ‘ibu’ dan ‘bapak’. Hihihi. Mungkin rentang usia yang terpaut cukup jauh membuat kami yang sebenarnya masih imut-imut ini terlihat sedikit agak ‘tua’ di mata anak SD 😀

Oke, kembali ke cerita yaa.

Setelah saya persilakan, sang anak pun mengangguk dengan takzim dan mengambil posisi duduk tepat di hadapan saya.

Sampai tahap ini, saya bingung. Seharusnya saya awali pemeriksaan dengan melakukan anamnesis (wawancara kesehatan). Tapi kalau seperti ini kondisi pasiennya, bagaimana caranya? Komunikasi hanya akan berjalan satu arah, tentu ini pertanda buruk untuk integritas bangsa ini.#naon sih

Ah, saya tidak bisa berpikir terlalu lama, pasien sudah di depan mata. Ampuni saya ya Allah, kali ini saya tidak mematuhi prosedur.

Akhirnya saya putuskan untuk langsung melakukan pemeriksaan fisik pada anak ini. Oke, saya akan mulai dengan memeriksa tanda vital dulu (ukur tensi, hitung nadi, hitung napas dan ukur suhu).

“Bu dokter, periksa tensinya dulu ya. Sok, tangan kanannya diulurin ke atas meja ya.”, ungkapku persuasif.

Anak itu mematuhi apa yang saya katakan. Dia menggulung baju bagian lengannya agak ke atas, menyediakan tempat untuk saya meletakkan cuff spigmomanometer di lengannya.

Dan sodara-sodara, tepat saat itu saya mengalami kejadian yang tak akan pernah saya lupakan sepanjang saya masih bisa mengingat.

Anda harus bersiap. Tak pernah sedikitpun dalam pikiran saya membayangkan hal ini akan terjadi dalam kehidupan saya di dunia yang semu ini.

Tiba-tiba saja, ya, tiba-tiba saja. Anak itu MELEPASKAN SELOTIP yang menyelimuti mulutnya dari ujung kiri ke ujung kanan!

Kemudian saya seakan mendengar hantu berbicara,

“Bu dokter bu dokter. Aku mau request dong. Jangan kenceng-kenceng ya nensinya, suka sakit..”, tiba-tiba saja kalimat itu TERLONTAR DARI MULUTNYA yang telah lepas dari balutan selotip,”eh tapi tapi, ko bu dokter ngga minta aku buat lepasin selotip ini sih. Ini kan main-main..”

Sedetik saya tercengang. Sayamemastikan kembali bahwa suara yang tadi muncul benar berasal dari mulut mungil bocah SMP di depan saya ini.

Astaghfirullah..

Jadi sedari tadi itu, ah, apa maksudnya? Saya benar-benar kehilangan kata-kata

 

Dipublikasi di eFKa | Meninggalkan komentar